BERSAMA MU
Aku kembali merentangkan lebar tanganku. Merasakan hembusan angin yang menampar setiap anganku. Aku masih berdiri disini, menunggu sesuatu yang takkan pernah datang. Aku tau itu, tapi bukankah keberuntungan akan datang kepada orang yang percaya akan keberuntungan itu sendiri? Aku ingin menjadi salah satu dari manusia beruntung tersebut. Setidaknya untuk kali ini.
“Claudia, bangun” Suara lembut mama terdengar jelas di telingaku.
Sebenarnya aku belum tertidur sedetik pun sejak kemarin. Aku tidak bisa. Aku masih memikirkannya. Kemarin adalah hari peringatan 2 tahun kematian orang yang sangat aku sayang selain mama dan ayah ku. Ethan. Ya, lelaki berdarah Indonesia Amerika itu telah mengisi kekosongan di hatiku 2 tahun ini. Aku tak tahu apa kelebihan ku sampai dia memilihku di antara gadis lain yang sibuk mengejarnya. Aku hanya gadis biasa yang berkesempatan untuk merasakan lembut tangannya, hangat peluknya dan mesra sikapnya. Sampai suatu hari, aku hanya kurang keras melarangnya dan secara tidak langsung membiarkannya pergi jauh dariku.
“Aku jemput kamu ya, please” kataku ditelfon.
“Aku bakalan datang sendiri Clau, percaya deh. Ntar malam kita ketemuan di taman dekat rumah kamu ya. Aku gak mau langsung pulang habis dari bandara. Aku ada urusan.” katanya panjang lebar membantah tawaran ku.
“Urusan apa?” kataku mulai kesal.
“Urusan penting Clau. Aku janji aku gak bakal telat.” katanya meyakinkanku.
“Terserah deh” dan aku langsung mematikan telfonku.
“Aku bakalan datang sendiri Clau, percaya deh. Ntar malam kita ketemuan di taman dekat rumah kamu ya. Aku gak mau langsung pulang habis dari bandara. Aku ada urusan.” katanya panjang lebar membantah tawaran ku.
“Urusan apa?” kataku mulai kesal.
“Urusan penting Clau. Aku janji aku gak bakal telat.” katanya meyakinkanku.
“Terserah deh” dan aku langsung mematikan telfonku.
Dia tidak pernah membantahku keras seperti itu. Hari itu hari pertamanya di Indonesia setelah 6 bulan di Amerika yang sekaligus juga menjadi hari terakhirnya di Indonesia. Aku tidak seharusnya marah seperti itu. Aku seharusnya membiarkannya menyelesaikan urusannya dengan tenang.
“Claudia, cukup nak” kata mama sambil menahan air mata. Aku masih tetap saja bersikeras diam di tempat tidurku. Aku tidak pernah menangis lagi setelah 1 bulan kepergian Ethan. Aku hanya diam. Aku benci mendengar suara mereka yang menyuruhku untuk berhenti. Mereka tidak pernah tahu apa yang aku rasakan, mereka hanya berpikir bahwa aku terlalu lemah untuk melepas dia pergi.
“Claudia mama bilang cukup!! Ethan tidak akan pernah kembali lagi Claudia! Dia sudah mati!” Itu adalah pertama kalinya mama membentakku 2 tahun ini.
“Mama sayang kamu Claudia. Kamu masih muda dan banyak laki-laki di luar sana yang mau mendampingimu.” Mama mulai kelewat batas. Aku muak mendengar apa yang mama katakan.
Aku langkahkan kakiku keluar dari rumah. Tak peduli mama yang melarangku untuk pergi. Aku merindukannya. Terlalu merindukannya dana aku sudah tidak tahan lagi mendengar omongan mama yang terus menyuruhku untuk melupakan Ethan dan mencarikanku penggantinya. Aku terus berlari walaupun aku merasakan ada cairan di kakiku. Aku ingin bertemu Ethan. Aku masih menunggunya di tempat yang dia janjikan waktu itu. Aku ingin bertemu dengannya disana. Mungkin dia hanya lupa dan berniat untuk bertemu denganku sekarang.
“Ethan” kataku lirih sambil terus berlari.
Aku tak sadar bunyi itu. Aku hanya terus berlari dan ketika kita membuka mata ku lampu-lampu di ruangan ini menyilaukan mataku. Aku lihat mama yang menangis dan ayah yang sibuk menenangkan mama. Aku mencium bau darah. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku bahkan tidak punya keinginan untuk berusaha kuat.
“Mama, Claudia sayang sama mama. Kalau mama benar-benar sayang sama Claudia ikhlasin Claudia pergi sama Ethan ma. Claudia udah gak tahan. Claudia pengen ketemu sama Ethan.” Kataku lemah namun lancar.
Mama terlihat sangat berantakan dan lemah seperti ku. Namun aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ethan aku sedang dalam perjalananku menyusulmu. Mimpi kita untuk tinggal bersama akhirnya terwujud. Mama membelikan ku rumah tepat di sampingmu. Kita bisa bersama selamanya sekarang. Jangan marah padaku Ethan. Aku tidak berusaha membunuh diriku. Aku senang sekali sekarang, karena akhirnya aku bisa terus bersama dengan mu tanpa harus takut kematian, jarak dan waktu memisahkan kita.

0 Komentar untuk "BERSAMA MU"